Sep 8, 2017

, ,

Renungan Jumaat : Jangan Kita Mementingkan Diri Sendiri

Assalamu'alaikum & Salam Sejahtera...

JANGAN KITA MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

Bahaya Ananiah Di Kehidupan Kita
Ananiah ?
Ananiyah berasal dari kata ana ertinya ‘aku’, Ananiyah berarti ‘keakuan’. Sifat ananiyah ini biasa disebut egoistis yaitu sikap hidup yang terlalu mementingkan diri sendiri bahkan jika perlu dengan mengorbankan kepentingan orang lain. 

Sikap ini adalah sikap hidup yang tercela, karena cenderung berbuat yang dapat merosak hubungan pergaulan kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari penyakit mental ini dapat diketahui dari sikapnya yang selalu mementingkan dan mengutamakan kepentingan dirinya diatas segala-galanya, tanpa mengindahkan kepentingan orang lain.

Memanglah manusia ini dilahirkan sebagai individu yang bebas dan unique. Perangai mendahulukan diri terhadap orang lain ini kenyataannya memang perlu, jika manusia ingin terus wujud di dunia ini. Hak mendahulukan diri ini pun diakui dan dibenarkan oleh Allah SWT, namun ada tempat dan batasnya. Hak ini, yang biasa disebut hak-hak pribadi (privacy), jelas diakui sepenuhnya oleh Allah SWT.

Kenyataan lain yang harus pula diakui oleh manusia ialah, bahawa ia tak mungkin hidup sendiri di muka bumi ini. Setiap orang memerlukankan yang lainnya. Oleh karena itu Allah telah rnenciptakan hukum yang menentukan batas-batas antara pemenuhan kepentingan diri terhadap kepentingan bersama (masyarakat) secara seimbang dan serasi (harmonis).

Rasa cinta ini akan menumbuhkan percaya diri yang sangat tinggi di dalam pribadi kita, sehingga rasa ketidak-stabilan oleh karena ketidak-pastian tadi menjadi sirna sama sekali, maka bersihlah diri dari sikap was-was atau ragu akan kasih sayang Allah, sebagaimana difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an:

“Demi pribadi dan penyempurnaannya; yang berpotensi sesat dan bertaqwa. Sungguh menanglah mereka yang mensucikannya; Sungguh rugilah mereka yang mengotorinya.” (Qs.Asy-Syam : 7-10)
“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”(Qs: Luqman ayat 18:2.)  

Contoh-Contoh Perilaku Ananiah

1. Tidak peduli terhadap penderitaan orang lain
2. Tidak mau membantu orang yang ditimpa kesusahan
3. Serlalu ingin menang sendiri
4. Merasa diri paling memiliki kelebihan
5. Angkuh, sombong, dan tidak mau bergaul dengan orang yang lebih rendah dari dirinya
6. Menganggap lemah dan remeh terhadap orang lain
7. Tidak mau menerima masukkan, saran, kritik, dan nasihat dari orang lain

Cara Menghindari Perilaku Ananiah
1. Senantiasa sedar bahawa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. 

2. Menghargai pendapat atau saranan dari orang lain

3. Senantiasa menyedari bahawa setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing

4. Tanamkan keimanan yang kuat agar tidak mudah tergoda oleh pujuk rayu syaitan yang selalu berusaha menjerumuskan manusia ke jurang kesalahan dan dosa

5. Perbanyakkan membaca dan belajar berbagai ilmu pengetahuan yang di miliki, serta kurangnya pergaulan pelaku dengan sesamanya.

6. Perbanyak bergaul dengan orang-orang yang bijak, banyak ilmunya, mulia akhlaknya, serta taat beribadah, sehingga kelak dapat meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Larangan Bersikap Ananiah
Islam melarang umatnya bersikap ananiah dan mendidik umatnya agar pandai-pandai menghormati orang lain sebagaimana wajarnya. ’Aisyah r.a. berkata sebagai berikut.
Artinya: Rasulullah saw.. menyuruh kita agar kita menghormati manusia (orang lain) sesuai dengan kedudukannya. (H.R. Muslim dari ‘Aisyah).[1]

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
Artinya : Tidaklah seorang anak muda yang memuliakan orang tua karena ketuannya, melainkan Allah akan mengadakan baginya orang yang akan memuliakan dia setelah tuanya. (H.R. at-Tirmizi nomor 1945 dari Anas bin Malik).

Apabila kita sebagai generasi muda mau menghormati yang tua, insya Allah kelak (setelah tua) akan dihormati pula oleh yang muda. Dengan demikian , hadis di atas sebagai motivasi bagi kita untuk menghormati orang lain (terutama yang lebih tua).

Walaupun pada hadist di atas dikatakan menghormati orang tua karena ketuaannya, bukan berarti bahwa selain orang tua tidak dihormati. Semua wajib dihormati sebagaimana diri kita ingin dihormati. Salah satu bentuk menghormati orang lain ialah menjaga diri agar tidak bersikap ananiah atau egois.

Sebenarnya kehidupan semacam itu justru bertentangan dengan hakikat manusia sebagai makhluk social. Artinya manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Bayangkan, bukankah untuk bisa berpakaian saja, kita membutuhkan peran orang banyak. Untuk bisa makan juga membutuhkan peran orang lain, yaitu orang yang menyediakan beras, lauk pauk dan sebagainya. Karena itu, kita harus bisa hidup bersama dengan orang lain. Tanpa orang lain kita bukan apa-apa dan tidak akan bisa menjadi apa-apa. Sifat ananiah bertentangan dengan agama Islam. Karena Islam tidak pernah menganjurkan atau membolehkan pemeluknya untuk menjadi orang yang egois di tengah-tengah masyarakat. Allah SWT memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan Allah SWT melarang kita untuk tolong-menolong dalam hal kejelekan.

Allah berfirman yang berbunyi :
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”(QS: Al-Maidah: 2)

Share:

4 comments:

Suka tak dengan N3 saya, kalau suka dan rasa terhibur boleh la tinggalkan komen anda.. Terima kasih

NUFFNANG